Bahasa Indonesia
Bank Indonesia catat transaksi pembayaran digital naik 37,69% pada kuartal I-2026
Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran Indonesia berlanjut pada kuartal I-2026, dengan volume transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi. Kenaikan itu ditopang perluasan akseptasi pembayaran digital, bertambahnya pengguna dan merchant, serta lonjakan transaksi QRIS yang menjadi kanal dengan pertumbuhan tertinggi.
Kinerja transaksi dan infrastruktur pembayaran
Seperti dilaporkan Bank Indonesia dalam konferensi pers RDG BI pada Kamis, 23 April 2026, volume transaksi pembayaran digital pada kuartal I-2026 mencapai 14,82 miliar transaksi, tumbuh 37,69% secara tahunan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan tersebut didorong oleh semakin luasnya akseptasi pembayaran digital serta peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Dari sisi kanal, transaksi melalui mobile banking tumbuh 11,82% YoY, sementara internet banking meningkat 17,13% YoY. Transaksi berbasis QRIS mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 116,43% YoY, menegaskan peran kode respons cepat sebagai motor utama pertumbuhan pembayaran digital.
Pada infrastruktur ritel, BI-FAST memproses 1,4 miliar transaksi, naik 30,82% YoY, dengan nilai transaksi mencapai Rp 3.519 triliun. Untuk transaksi nilai besar, volume BI-RTGS tercatat 2,46 juta transaksi, turun tipis 0,20% YoY, namun secara nominal masih tumbuh 11,26% YoY menjadi Rp 51.490 triliun.
Dampak bagi sistem pembayaran nasional
Dari sisi uang kartal, Uang Kartal Yang Diedarkan mencapai Rp 1.347 triliun pada kuartal I-2026, atau tumbuh 8,59% YoY. Bank Indonesia menilai stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga berkat infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang semakin sehat.
Kondisi tersebut tercermin pada kelancaran Sistem Pembayaran Bank Indonesia dan sistem pembayaran industri, serta interkoneksi antarpelaku yang terus menguat. Ke depan, BI menyatakan akan terus memperkuat struktur industri sistem pembayaran, terutama pada aspek manajemen risiko dan keandalan infrastruktur teknologi, sejalan dengan implementasi regulasi terbaru di sektor ini.
Bank sentral juga memastikan ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Langkah ini menunjukkan bahwa penguatan pembayaran digital tetap berjalan berdampingan dengan pemeliharaan layanan kas nasional.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang integrasi QRIS dengan limit kartu kredit melalui fitur Honest QRIS MPM, kami membahas upaya menggabungkan pemindaian QRIS dengan pembiayaan kartu kredit untuk transaksi harian. Inovasi ini memungkinkan pembayaran di puluhan juta merchant QRIS tanpa tambahan mesin EDC, sekaligus membuka peluang perluasan akses pembayaran dan pembangunan riwayat kredit bagi pengguna serta UMKM.
