Bahasa Indonesia
Bank Indonesia (BI) meyakini laju inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran pemerintah, yakni 2,5±1% pada 2026, meski Indeks Harga Konsumen (IHK) sampai April 2026 telah mencetak inflasi hingga 3,08% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IHK pada Mei 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,28% secara bulanan (month-to-month/mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 3,08% (yoy).
"Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Sebelumnya, BPS melaporkan inflasi inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,22% (mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,23% (mtm). Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi terutama oleh kenaikan harga minyak goreng di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga. Secara tahunan, inflasi inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,59% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,44% (yoy).
Kelompok pangan bergejolak atau volatile food pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,22% (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar 0,88% (mtm). Inflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras seiring penurunan pasokan yang disebabkan oleh gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan berakhirnya musim panen raya di tengah kenaikan permintaan pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.
Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 6,24% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,37% (yoy). Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID, serta penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Sementara itu, kelompok harga diatur pemerintah atau administered prices pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,52% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,69% (mtm). Inflasi kelompok administered prices terutama disumbang oleh komoditas bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara seiring dengan penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi, Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, dan avtur akibat kenaikan harga energi global.
Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 2,07% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,53% (yoy).
Sumber : bloombergtechnoz.com (2026)
